ishilogo.jpg

ANGGARAN DASAR

 

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa,

Bahwa, Sarjana Hukum Indonesia sebagai bagian dari masyarakat intelektual wajib turut serta dalam pembangunan nasional demi terciptanya tatanan hukum yang lebih baik menuju terciptanya kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia,

Bahwa, Sarjana Hukum Indonesia sebagai salah satu sumber daya dalam  pembangunan hukum nasional senantiasa wajib mengembangkan potensi keilmuan dan  keprofesian dalam rangka meningkatkan mutu dan peran serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahwa untuk mewujudkan peran  sarjana hukum  dalam  pembangunan dan penegakan hukum serta sebagai sarana komunikasi kekeluargaan antar sesama sarjana hukum, perlu dibentuk suatu organisasi yang menaungi seluruh sarjana hukum di Indonesia yang berfungsi sebagai wadah pemersatu langkah  demi mewujudkan cita-cita luhur Pancasila.

 

BAB I

NAMA, TEMPAT KEDUDUKAN DAN WAKTU

 

Pasal 1

Organisasi ini bernama Ikatan Sajana Hukum Indonesia, disingkat ISHI

Pasal 2

ISHI berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia

Pasal 3

(1)   ISHI didirikan pada tanggal 14 Oktober  2009 di Jakarta

(2)   ISHI didirikan sampai  waktu yang tidak ditentukan

 

BAB II

ASAS,  LANDASAN , LAMBANG DAN TUJUAN

 

Pasal 4

ISHI berasaskan nilai-nilai luhur Pancasila

 

Pasal 5

ISHI berlandaskan Undang-undang Dasar  1945

 

Pasal 6

(1)   ISHI memiliki lambang yang terdiri dari Timbangan yang dengan tiang pedang, dilingkari padi berjumlah tiga puluh tiga. Padi berwarna Hijau,  Timbangan warna merah  dengan latarbelakang warna putih

(2)   Penggunaan Lambang dan identitas lainnya ditentukan dalam Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

Pasal 7

 ISHI bertujuan :

1.    Membaktikan ilmu Hukum bagi  bangsa dan negara demi terciptanya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;

2.    Membangun dan mengembangkan pengetahuan Hukum untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi terciptanya tata hukum Indonesia yang lebih baik;

3.    Membangun dan menciptakan  persatuan antar sesama sarjana hukum dalam kerangka mengembangkan nilai-nilai persatuan Indonesia;

4.    Meningkatkan dan mengembangkan potensi keilmuan dan profesi para sarjana hukum Indonesia;

BAB III

USAHA

 

Pasal 8

Untuk mencapai tujuan tersebut ISHI melakukan usaha :

1.    Berperan aktif dalam peningkatan dan pengembangan pendidikan hukum

2.    Berperan aktif dalam Pembangunan,Penegakan dan Pengawasan hukum 

3.    Berperan aktif dalam meningkatkan pengetahuan hukum masyarakat

4.    Menjalin hubungan kerjasama antar instansi  pemerintah dan non pemerintah yang berkaitan dengan hukum dan pendidikan

5.    Menjalin hubungan kerjasama  lintas sektoral keilmuan lainnya didalam maupun diluar negeri

6.    Menjalin hubungan silahturahmi antar sesama sarjana hukum di Seluruh Indonesia dan di luar negeri

 

BAB IV

ANGGOTA

 

Pasal 9

(1)      Anggota ISHI adalah Sarjana  Hukum lulusan dari Dalam dan / atau Luar Negeri

(2)       Anggota Dewan Pembina adalah anggota yang dipandang mampu untuk memberikan pembinaan dan / atau arahan terhadap pencapaian tujuan organisasi

(3)      Anggota Dewan Pakar  adalah anggota yang dipandang ahli  dalam bidang hukum dan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan hukum

 

Pasal 10

(1)  Hak Anggota

a.    Hak Suara

b.    Hak  dipilih 

c.    Hak bicara

d.    Mengikuti  setiap kegiatan organisasi

(2)  Kewajiban Anggota

a.    Mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan seluruh peraturan lainnya

b.    Memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan organisasi

c.    Menjaga dan menghormati nama baik organisasi

d.    Membayar Iuran Anggota

 

BAB V

STRUKTUR KEORGANISASIAN

 

Pasal 11

Struktur Organisasi ISHI terdiri dari;

1.    Dewan Pimpinan Pusat

2.    Dewan Pembina

3.    Dewan Pakar

4.    Dewan Senator Nasional

5.    Dewan Pimpinan Daerah

6.    Dewan Pimpinan Cabang

7.    Dewan Senator Daerah

8.    Dewan Senator Cabang

 

Pasal 12

(1)         Dewan Pimpinan Pusat dipimpin oleh seorang Ketua Umum yang kukuhkan dalam Kongres Nasional

(2)         Susunan Dewan Pimpinan Pusat sekurang –kurangnya terdiri dari :

a.    Satu orang Ketua Umum

b.    Satu orang Sekretaris Jenderal

c.    Satu Orang Ketua

d.    Satu Orang Wakil Sekretaris Jenderal

e.    Satu Orang Bendahara Umum

(3)         Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Para Ketua, Bendahara Umum, Para Ketua Departemen dan Para Wakil Sekretaris Jenderal merupakan Pengurus  Harian.

(4)         Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal  mewakili  organisasi  di dalam maupun di luar Pengadilan

(5)         Dewan Pimpinan  Pusat dapat membentuk Departemen-Departemen sesuai kebutuhan organisasi

(6)         Jika Ketua Umum mengundurkan diri dan / atau berhalangan tetap, maka Ketua Umum digantikan oleh Sekretaris Jenderal, sampai masa periode jabatan berakhir. 

 

Pasal 13

(1)         Dewan Pembina dipimpin oleh seorang Ketua Dewan Pembina

(2)         Anggota Dewan Pembina dipilih dalam Kongres Nasional

(3)         Ketua Dewan Pembina dipilih dari dalam Kongres Nasional

(4)         Susunan Dewan Pembina sekurang-kurangnya  terdiri dari ;

a.    Satu orang Ketua Dewan Pembina

b.    Satu orang Wakil Ketua Dewan Pembina

(5)         Jika Ketua Dewan Pembina mengundurkan diri dan / atau berhalangan tetap, maka Wakil Ketua  Dewan Pembina menjadi Ketua Dewan Pembina, sampai masa periode jabatan berakhir. 

 

 

Pasal 14

(1)         Dewan Pakar dipimpin oleh seorang Ketua Dewan Pakar

(2)         Anggota Dewan Pakar dipilih oleh Dewan Pimpinan Pusat

(3)         Ketua Dewan Pakar  dipilih oleh Dewan Pimpinan Pusat

(4)         Susunan Dewan Pakar  sekurang-kurangnya  terdiri dari ;

a.    Satu orang Ketua Dewan Pakar

b.    Satu Orang Wakil Ketua Dewan Pakar

c.    Satu orang Sekretaris Dewan Pakar

(5)         Jika Ketua Dewan Pakar mengundurkan diri atau berhalangan tetap, maka Wakil Ketua Dewan Pakar menjadi Ketua Dewan Pakar, sampai masa periode jabatan berakhir. 

 

Pasal 15

(1)         Dewan  Pimpinan Daerah dipimpin oleh seorang Ketua Dewan  Pimpinan Daerah  yang dipilih dalam Musyawarah Daerah

(2)         Susunan Dewan Pimpinan Daerah sekurang –kurangnya terdiri dari :

a.    Satu orang Ketua 

b.    Satu orang Sekretaris

c.    Satu orang Bendahara

(3)         Ketua, Para Wakil Ketua, Para Sekretaris dan Bendahara merupakan Pengurus Harian Daerah

(4)         Dewan Pimpinan Daerah dapat membentuk Divisi-Divisi sesuai kebutuhan

(5)         Jika Ketua Dewan Pimpinan Daerah mengundurkan diri dan / atau berhalangan tetap, maka Ketua Dewan Pimpinan Daerah digantikan oleh Sekretaris Daerah, sampai masa periode jabatan berakhir. 

 

Pasal 16

(1)         Dewan  Pimpinan Cabang dipimpin oleh seorang Ketua Dewan  Pimpinan Cabang  yang dipilih dalam Musyawarah Cabang

(2)         Susunan Dewan Pimpinan Cabang sekurang –kurangnya terdiri dari :

a.    Satu orang Ketua 

b.    Satu orang Sekretaris

c.    Satu orang Bendahara

(3)         Ketua, Para Wakil Ketua, Para Sekretaris dan Bendahara merupakan Pengurus Harian Cabang

(4)         Dewan Pimpinan Cabang dapat membentuk Biro-Biro sesuai kebutuhan

(5)         Jika Ketua Dewan Pimpinan Cabang mengundurkan diri dan / atau berhalangan tetap, maka Ketua Dewan Pimpinan Cabang digantikan oleh Sekretaris Cabang, sampai masa periode jabatan berakhir. 

 

Pasal 17

(1)         Dewan Senator Nasional dipimpin oleh seorang Ketua Dewan Senator Nasional

(2)         Senator Nasional   adalah  Para Ketua Dewan Senator Daerah

(3)         Susunan Dewan Senator Nasional terdiri dari :

a.    Satu orang Ketua

b.    Satu orang Wakil Ketua

c.    Satu orang Sekretaris

(4)         Ketua Dewan Senator Nasional dipilih dari dan oleh Senator Nasional dalam Musyawarah Dewan Senator Nasional yang diadakan bersamaan dengan Kongres Nasional

(5)         Jika Ketua Dewan Senator Nasional  mengundurkan diri atau berhalangan tetap, maka Ketua Dewan Senator Pusat digantikan oleh Wakil Ketua, sampai periode jabatan berakhir

 

Pasal 18

(1)         Dewan Senator Daerah dipimpin oleh seorang Ketua Dewan Senator Daerah  yang dipilih dalam Musyawarah Daerah

(2)         Senator Daerah adalah Para Ketua Dewan Senator Cabang

(3)         Senator Daerah Sekurang-kurangnya berjumlah 3 orang

(4)         Susunan Dewan Senator Daerah sekurang-kurangnya terdiri dari:

a.    Satu Orang Ketua

b.    Satu Orang Wakil Ketua

c.    Satu Orang Sekretaris

(5)         Ketua Dewan Senator Daerah dipilih dari dan oleh Senator Daerah dalam Musyawarah Daerah

(6)         Jika Ketua Dewan Senator Daerah mengundurkan diri dan / atau berhalangan tetap maka Ketua Senator Daerah digantikan oleh Wakil Ketua sampai masa periode jabatan berakhir

 

Pasal 19

(1)         Dewan Senator Cabang dipimpin oleh seorang Ketua Dewan Senator cabang  yang dipilih dalam Musyawarah Cabang

(2)         Senator Cabang  adalah wakil  dari jumlah tertentu Anggota yang dipilih pada Pemilihan Senator Cabang

(3)         Senator Cabang  Sekurang-kurangnya berjumlah 3 orang

(4)         Senator Cabang dipilih dalam Musyawarah Cabang

(5)         Susunan Dewan Senator Cabang sekurang-kurangnya terdiri dari:

a.    Satu Orang Ketua

b.    Satu Orang Wakil Ketua

c.    Satu Orang Sekretaris

(6)         Ketua Dewan Senator Cabang dipilih dari dan oleh senator cabang

(7)         Jika Ketua Dewan Senator Cabang mengundurkan diri dan / atau berhalangan tetap makaKetua Dewan Senator Cabang digantikan oleh Wakil Ketua sampai masa periode jabatan berakhir

 

 

BAB VI

TUGAS, FUNGSI DAN WEWENANG

 

Pasal 20

(1)         Dewan Pimpinan Pusat bertugas menjalankan roda organisasi berdasarkan Anggaran Dasar  dan Anggaran Rumah Tangga  dan berdasarkan peraturan lain, demi tercapainya tujuan organisasi.

(2)         Dewan Pimpinan Pusat menjalankan fungsi sebagai:

a.    Pimpinan  tertinggi Organisasi

b.    Pembentuk  kebijakan organisasi untuk menjalankan  Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

c.    Pembentuk  kebijakan organisasi untuk menjalankan  Garis-Garis Besar Program Nasional

d.    Pembentuk kebijakan lain yang dianggap perlu sesuai kewenangan yang diberikan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

e.    Pengkoordinasian dan peningkatan keterpaduan penyusunan rencana dan pelaksanaan program, pemantauan, analisis dan evaluasi

 

(3)         Dewan Pimpinan Pusat melaksanakan kewenangan dalam:

a.    Menetapkan dan menerapkan peraturan pelaksana untuk menjalankan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

b.    Menetapkan dan menerapkan pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan Garis-Garis Besar Program Nasional

c.    Menerapkan keputusan yang diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran rumah tangga ini

d.    Menetapkan dan menerapkan keputusan lain  sesuai dengan tugas dan fungsi sebagai Dewan Pimpinan Pusat

 

Pasal 21

(1)         Dewan Pembina bertugas memberi masukan dan  dukungan kepada Dewan Pimpinan Pusat

(2)         Dewan Pembina menjalankan fungsi sebagai pemberi wawasan, pertimbangan, dan arahan terhadap kebijakan organisasi

(3)         Dewan Pembina melaksanakan kewenangan:

a.    Memberikan masukan terhadap suatu kebijakan yang akan, sedang atau telah dilaksanakan.

b.    Memberikan arahan terhadap upaya-upaya percepatan pencapaian tujuan organisasi

 

Pasal 22

(1)         Dewan Pakar bertugas sebagai narasumber, penyumbang pemikiran, gagasan keilmuan hukum sesuai dengan keahlian hukum yang dimiliki, untuk pencapaian tujuan organisasi

(2)         Dewan Pakar menjalankan fungsi sebagai pemberi pertimbangan dan pendapat yang bersifat keilmuan hukum

(3)         Dewan Pakar melaksanakan kewenanganan untuk memberikan pertimbangan secara ilmiah terhadap suatu pembahasan tertentu dan / atau  mengusulkan suatu pemikiran hukum tentu dalam kerangka pembangunan hukum nasional

 

Pasal 23

(1)         Dewan Senator Nasional bertugas mengawasi kinerja dan penerapan aturan organisasi yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat

(2)         Dewan Senator Nasional berfungsi sebagai;

a.    Lembaga pengawas

b.    Bentuk  perwakilan dari anggota yang wakili kepentingan daerah

(3)         Dewan Senator Nasional berwenang untuk:

a.    Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas-tugas yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat

b.    Menampung dan menyalurkan aspirasi Daerah ke Dewan Pimpinan Pusat

c.    Menerapkan keputusan yang diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran rumah tangga ini

 

Pasal 24

(1)         Dewan Pimpinan Daerah bertugas menjalankan roda organisasi ditingkat Daerah berdasarkan Anggaran Dasar  dan Anggaran Rumah Tangga  dan peraturan lain, demi tercapainya tujuan organisasi.

(2)         Dewan Pimpinan Daerah menjalankan fungsi sebagai:

a.  Pimpinan tertinggi organisasi di tingkat Daerah

b.  Pelaksana kebijakan Dewan Pimpinan Pusat ditingkat daerah  yang berpedoman kepada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan mengacu kepada Program Kerja Nasional

c.  Pelaksana kebijakan yang ditetapkan dalam musyawarah Daerah

d.  Pengkoordinasian dan peningkatan keterpaduan penyusunan rencana dan pelaksanaan program, pemantauan, analisis dan evaluasi di tingkat Daerah

(3)         Dewan Pimpinan Daerah melaksanakan kewenangan:

a.    Menerapkan kebijakan organisasi yang telah ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat

b.    Menerapkan kebijakan yang telah ditetapkan dalam Musyawarah Daerah

c.    Menerapkan keputusan yang diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran rumah tangga ini

d.    Menetapkan  dan menerapkan keputusan lain yang dianggap perlu sesuai dengan tugas dan fungsi sebagai Dewan Pimpinan Daerah

 

Pasal 25

(1)         Dewan Senator Daerah  bertugas mengawasi kinerja dan penerapan aturan organisasi yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Daerah

(2)         Dewan Senator Daerah berfungsi sebagai;

a.    Lembaga pengawas

b.    Bentuk  perwakilan dari anggota yang wakili kepentingan Cabang

(3)         Dewan Senator Daerah  berwenang untuk:

a.    Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas-tugas yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Daerah

b.    Menampung dan menyalurkan aspirasi Cabang ke Dewan Pimpinan Daerah

c.    Menerapkan keputusan yang diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran rumah tangga ini

 

Pasal 26

(1)         Dewan Pimpinan Cabang  bertugas menjalankan roda organisasi ditingkat Cabang berdasarkan Anggaran Dasar  dan Anggaran Rumah Tangga  dan peraturan lain, demi tercapainya tujuan organisasi.

(2)         Dewan Pimpinan Cabang menjalankan fungsi sebagai:

a.    Pimpinan tertinggi organisasi di tingkat Cabang

b.    Pelaksana kebijakan Dewan Pimpinan Daerah ditingkat cabang  yang berpedoman kepada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

c.    Pelaksana kebijakan yang ditetapkan dalam musyawarah Cabang

d.    Pengkoordinasian dan peningkatan keterpaduan penyusunan rencana dan pelaksanaan program, pemantauan, analisis dan evaluasi di tingkat Cabang

(3)         Dewan Pimpinan Cabang melaksanakan kewenangan:

a.    Menerapkan kebijakan organisasi yang telah ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Daerah

b.    Menerapkan kebijakan yang telah ditetapkan dalam Musyawarah Cabang

c.    Menerapkan keputusan yang diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran rumah tangga ini

d.    Menetapkan  dan menerapkan keputusan lain yang dianggap perlu sesuai dengan tugas dan fungsi sebagai Dewan Pimpinan Daerah

 

Pasal 27

(1)         Dewan Senator Cabang  bertugas mengawasi kinerja dan penerapan aturan organisasi yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Cabang

(2)         Dewan Senator Cabang berfungsi sebagai;

a.    Lembaga pengawas

b.    Bentuk  perwakilan dari anggota yang wakili kepentingan anggota

(3)         Dewan Senator Cabang  berwenang untuk:

a.    Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas-tugas yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Cabang

b.    Menampung dan menyalurkan aspirasi anggota ke Dewan Pimpinan Cabang

c.    Menerapkan keputusan yang diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran rumah tangga ini

 

BAB VII

MASA JABATAN

 

Pasal  28

(1)         Masa Jabatan Ketua Umum adalah untuk paling lama 4 tahun,  dan tidak dapat dipilih kembali

(2)         Masa Jabatan Sekretaris Jenderal adalah untuk paling lama 4 tahun dan tidak dapat dipilih kembali

(3)         Masa Jabatan Ketua Dewan Pembina adalah untuk paling lama 4 tahun,  dan dapat dipilih kembali

(4)         Masa Jabatan Ketua Dewan Pakar  adalah untuk paling lama 4 tahun,  dan dapat dipilih kembali

(5)         Masa Jabatan Ketua  Dewan  Senator Nasional adalah untuk paling lama 4 tahun dan dapat dipilih kembali

(6)         Masa Jabatan Ketua Dewan Senator Daerah adalah untuk paling lama 3 tahun dan dapat dipilih kembali

(7)         Masa Jabatan Ketua  Dewan Senator Cabang adalah untuk paling lama 3 tahun dan dapat dipilih kembali

(8)         Masa Jabatan Ketua Dewan Pimpinan Daerah  adalah untuk paling lama 3 tahun, dan dapat dipilih kembali  untuk masa 3 tahun berikutnya

(9)         Masa Jabatan Ketua Dewan Pimpinan Cabang  adalah untuk paling lama 3 tahun, dan dapat dipilih kembali  untuk masa 3 tahun berikutnya

(10)     Masa Jabatan  Senator Daerah  adalah untuk paling lama 3  tahun, dan dapat dipilih kembali untuk masa 3 tahun berikutnya

(11)     Masa Jabatan  Senator Cabang  adalah untuk paling lama 3  tahun, dan dapat dipilih kembali untuk masa 3 tahun berikutnya

 

BAB VIII

KONGRES  NASIONAL

 

Pasal 29

(1)         Kongres Nasional  merupakan kekuasaan tertinggi organisasi

(2)         Kongres Nasional  diadakan selambat-lambatnya  4 tahun sekali

(3)         Peserta Kongres Nasional terdiri dari ;

a.    Pengurus Harian Dewan Pimpinan Pusat

b.    Para Dewan Pembina

c.    Para Dewan Pakar

d.    Para Pimpinan Daerah

e.    Para Pimpinan Cabang

f.   Para Dewan Senator Cabang 

(4)         Kongres Nasional sah apabila dihadiri oleh sekurang kurangnya ˝  + 1 dari Jumlah pemegang hak suara dalam Kongres Nasional

(5)         Kongres Nasional  diadakan untuk :

a.    Mengubah atau tidak mengubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

b.    Pertanggungjawaban Ketua Umum

c.    Pertanggungjawabanan Ketua Dewan Senator Nasional

d.    Mengukuhkan Ketua Umum

e.    Memilih Sekretaris Jenderal

f.   Memilih anggota Dewan Pembina

g.    Menetapkan Garis-Garis  Besar Program Nasional

h.    Menetapkan Rekomendasi Nasional

 

BAB IX

MUSYAWARAH DAERAH

 

Pasal 30

(1)         Musyawarah Daerah merupakan kekuasaan tertinggi organisasi ditingkat daerah

(2)         Musyawarah Daerah diadakan selambat-lambatnya  3 tahun sekali

(3)         Peserta Musyawarah Daerah terdiri dari:

a.    Para Pengurus Harian Daerah

b.    Para Dewan Pimpinan Cabang

c.    Dewan Senator Daerah

d.    Para Senator Cabang

(4)         Musyawarah Daerah sah apabila dihadiri oleh sekurang kurangnya ˝  +1 dari Jumlah Pemegang Hak Suara

(5)         Musyawarah Daerah diadakan untuk :

a.    Pertanggungjawaban Ketua Dewan Pimpinan Daerah

b.    Pertanggungjawaban Dewan Senator Daerah

c.    Memilih Ketua Dewan Pimpinan Daerah

d.    Memilih Ketua Dewan Senator Daerah

e.    Menetapkan Garis-Garis  Besar Program Daerah  berpedoman kepada Garis-Garis Besar Program Nasional

(6)         Dewan Pimpinan Pusat menerbitkan Surat Keputusan Penetapan Pengangkatan Ketua Dewan Pimpinan Daerah.

 

BAB X

MUSYAWARAH CABANG

 

Pasal 31

(1)         Musyawarah Cabang  merupakan kekuasaan tertinggi organisasi ditingkat Cabang

(2)         Musyawarah Cabang diadakan selambat-lambatnya  3 tahun sekali

(3)         Peserta Musyawarah Cabang terdiri dari:

a.    Para Pengurus Harian Cabang

b.    Para Senator Cabang

c.    Anggota

(4)         Musyawarah Cabang sah apabila dihadiri oleh sekurang kurangnya ˝  +1 dari Jumlah anggota

(5)         Musyawarah Cabang diadakan untuk :

a.    Pertanggungjawab Ketua Dewan Pimpinan Cabang

b.    Pertanggungjawaban Ketua Dewan Senator Cabang

c.    Memilih Ketua Dewan Pimpinan Cabang

d.    Memilih Senator Cabang

e.    Menetapkan Garis-Garis  Besar Program Cabang  berpedoman kepada Garis-Garis Besar Program Daerah 

(6)         Dewan Pimpinan Pusat menerbitkan Surat Keputusan Penetapan Pengangkatan Ketua Dewan Pimpinan Cabang.

 

 

BAB XI

PEMILIHAN DEWAN SENATOR

 

Pasal 32

(1)         Pemilihan Dewan Senator Nasional  dilakukan dalam Musyawarah Dewan Senator Nasional yang diadakan bersamaan dengan  Kongres Nasional

(2)         Musyawarah Dewan Senator Nasional menetapkan Ketua Dewan Senator Nasional , Wakil Ketua dan Sekretaris

(3)         Pemilihan Dewan Senator Nasional dilakukan setelah dilaksanakannya pemilihan Sekretaris Jenderal

Pasal 33

(1)         Pemilihan Dewan Senator Daerah  dilakukan dalam Musyawarah Dewan Senator Daerah yang diadakan bersamaan dengan  Musyawarah Daerah

(2)         Musyawarah Dewan Senator Daerah  menetapkan Ketua Dewan Senator Daerah, Wakil Ketua dan Sekretaris

(3)         Pemilihan Dewan Senator Daerah dilakukan setelah dilaksanakannya pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Daerah

 

Pasal 34

(1)         Pemilihan Dewan Senator Cabang  dilakukan dalam Musyawarah Dewan Senator Cabang yang diadakan bersamaan dengan  Musyawarah Cabang

(2)         Musyawarah Dewan Senator Cabang  menetapkan Ketua Dewan Senator Cabang, Wakil Ketua dan Sekretaris

(4)         Pemilihan Dewan Senator Cabang dilakukan setelah dilaksanakannya pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Cabang

 

 

BAB XII

KUORUM, HAK SUARA & PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 

Pasal 35

(1)         Pengurus Harian Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan Cabang, Senator Nasional, Senator Daerah, Senator Cabang,  Anggota Dewan Pembina, Anggota Dewan Pakar, memiliki 1 hak suara dalam Kongres Nasional

(2)         Pengurus Harian Daerah, Dewan Pimpinan Cabang,  Senator Daerah, Senator Cabang,  memiliki 1 hak suara dalam Musyawarah Daerah

(3)         Pengurus Harian Cabang, Senator Cabang dan Anggota,  memiliki 1 hak suara dalam Musyawarah Cabang

 

Pasal 36

(1)         Kuorum untuk Kongres Nasional adalah ˝ + 1 dari jumlah Pemegang Hak Suara pada Kongres Nasional

(2)         Jika Kuorum Kongres Nasional tidak tercapai , Pelaksanaan ditunda paling lama untuk waktu 1 x 2 Jam, setelah itu Kongres Nasional dilaksanakan tanpa terikat dengan ketentuan Kuorum

(3)         Kuorum untuk Musyawarh Dewan Senator Nasional  adalah ˝  + 1 dari jumlah Senator Nasional

(4)         Jika Kuorum Musyawarah Dewan Senator Nasional  tidak tercapai, Pelaksanaan ditunda paling lama untuk waktu 1x1 Jam , setelah itu Musyawarah  Dewan Senator Nasional  dilaksanakan tanpa terikat dengan ketentuan kuorum.

(5)         Kuorum untuk Musyawarah Daerah adalah ˝ +1 dari Jumlah Pemegang Hak Suara pada Musyawarah Daerah

(6)         Jika Kuorum Musyawarah Daerah tidak tercapai , Pelaksanaan ditunda paling lama untuk waktu 1 x 2 Jam, setelah itu Musyawarah Daerah dilanjutkan  tanpa terikat dengan ketentuan Kuorum

(7)         Kuorum untuk Musyawarah Cabang adalah ˝ +1 dari Jumlah Pemegang Hak Suara pada Musyawarah Cabang

(8)         Jika Kuorum Musyawarah Cabang  tidak tercapai , Pelaksanaan ditunda paling lama untuk waktu 1 x 2 Jam, setelah itu Musyawarah Cabang dilanjutkan  tanpa terikat dengan ketentuan Kuorum

 

Pasal 37

Setiap  keputusan dalam  Kongres  dilakukan secara musyawarah, apabila musyawarah tidak tercapai maka keputusan diambil  berdasarkan suara terbanyak

 

BAB XIII

SIDANG DAN RAPAT

 

Pasal 38

(1)  Macam-macam  Sidang Pleno ;

a.    Sidang Pleno Kongres Nasional

b.    Sidang Pleno Musyawarah Daerah

c.    Sidang Pleno Musyawarah Cabang

d.    Sidang Pleno Dewan Senator Nasional

e.    Sidang Pleno Dewan Senator Daerah

f.   Sidang Pleno Dewan Senator Cabang

(2)      Sidang Tahunan

 

Pasal 39

(1)      Rapat di Tingkat Nasional

a.    Rapat Pimpinan Nasional

b.    Rapat Dewan Senator Nasional

c.    Rapat Kerja Nasional

(2)      Rapat di Tingkat Dewan Pimpinan Pusat

a.    Rapat Pengurus Harian Dewan Pimpinan Pusat

b.    Rapat Kerja Dewan Pimpinan Pusat

c.    Rapat Pengurus Pusat

(3)      Rapat di Tingkat Dewan Pimpinan Daerah

a.    Rapat Komisi dalam Musyawarah Daerah

b.    Rapat Pengurus Harian

c.    Rapat Kerja Pengurus

d.    Rapat Pengurus

e.    Rapat Dewan Senator Daerah

(4)      Rapat di Tingkat Dewan Pimpinan Cabang

a.    Rapat Komisi dalam Musyawarah Cabang

b.    Rapat Pengurus Harian

c.    Rapat Kerja Pengurus

d.    Rapat Pengurus

e.    Rapat Dewan Senator Cabang

 

BAB XIV

KEUANGAN

 

Pasal 40

Sumber – sumber keuangan organisasi terdiri dari :

1.   Iuran anggota.

2.   Sumbangan  yang tidak mengikat.

3.   Hasil kegiatan dan usaha.

4.   Sumber lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku.

BAB XV

HIRARKI PERATURAN ORGANISASI

 

Pasal 41

(1)  Jenis  dan hirarki Peraturan sebagai berikut :

a.    Keputusan Kongres Nasional atau Keputusan Kongres Nasional Luar Biasa

b.    Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

c.    Keputusan  Dewan Pimpinan Pusat

d.    Keputusan Musyawarah Daerah atau Keputusan Musyawarah Daerah Luar Biasa

e.    Keputusan Ketua Dewan Pimpinan Daerah

f.   Keputusan Musyawarah Cabang atau Keputusan Musyawarah Cabang Luar Biasa

g.    Keputusan  Dewan Pimpinan Cabang

(2)      Kekuatan hukum Peraturan organisasi adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

 

 

BAB XVI

KONGRES DAN MUSYAWARAH LUAR BIASA

 

Pasal  42

(1)  Kongres Nasional  Luar Biasa adalah kongres yang diadakan untuk ;

a.    Meminta Pertanggunjawaban  Ketua Umum sebelum periode kepemimpinan berakhir untuk mengganti atau tidak mengganti Ketua Umum, dengan syarat dan ketentuan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga

b.    Membubarkan Ikatan Sarjana Hukum Indonesia

(2)      Kongres Nasional  Luar Biasa yang diadakan untuk maksud yang diatur dalam ayat (1) huruf a, diadakan atas usul tertulis sekurang-kurangnya ˝  dari jumlah Senator Nasional ditambah sekurang-kurangnya ˝ dari Jumlah Senator Daerah

(3)      Hasil usulan untuk melaksanakan Kongres Nasional    Luar Biasa disampaikan oleh Dewan Senator Nasional kepada Ketua Umum untuk dilaksanakan. 

(4)      Kongres Nasional Luar Biasa diadakan oleh Dewan Pimpinan Pusat

(5)      Kongres Luar Biasa yang diadakan untuk maksud ayat (1) huruf a, sah bila dihadiri oleh sekurang-kurangnya ˝  pemegang hak suara dalam Kongres Nasional

(6)      Setiap persetujuan dalam Kongres Luar Biasa yang bertujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, harus disetujui sekurang-kurangnya 2/3  pemegang hak suara yang hadir

(7)      Setiap persetujuan dalam Kongres Luar Biasa yang bertujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf  b mengacu kepada pasal 46.

 

Pasal 43

Musyawarah Daerah Luar Biasa adalah Musyawarah yang diadakan untuk;

1.    Meminta Pertanggungjawaban Ketua Daerah sebelum periode kepemimpinan berakhir , untuk  mengganti atau tidak mengganti Ketua DPD, dengan syarat dan ketentuan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga

2.    Musyawarah Luar Biasa Daerah diadakan atas usul tertulis  sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Senator Daerah ditambah sekurang-kurangnya 2/3 dari Jumlah Dewan Pimpinan Cabang

3.    Hasil usulan untuk melaksanakan Musyawarah  Daerah Luar Biasa disampaikan oleh Dewan Senator Daerah kepada Ketua Umum untuk mendapatkan penetapan pelaksanaan Musyawarah Daerah Luar Biasa 

4.    Musyawarah Daerah Luar Biasa diadakan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah

5.    Musyawarah Daerah Luar Biasa sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya ˝ + 1 dari Jumlah pemegang Hak Suara dalam Musyawarah Daerah

6.    Setiap Persetujuan dalam Musyawarah Daerah Luar Biasa harus mendapat persetujuan sekurang-kurangnya ˝ + 1 dari jumlah pemegang hak suara dalam Musyawarah Daerah  yang hadir

 

Pasal 44

Musyawarah Cabang  Luar Biasa adalah Musyawarah yang diadakan untuk;

1.    Meminta Pertanggungjawaban Ketua Cabang  sebelum periode kepemimpinan berakhir , untuk  mengganti atau tidak mengganti Ketua Dewan Pimpinan Cabang, dengan syarat dan ketentuan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga

2.    Musyawarah Cabang  Luar Biasa diadakan atas usul tertulis  sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Senator Cabang

3.    Hasil usulan untuk melaksanakan Musyawarah  Cabang Luar Biasa disampaikan oleh Dewan Senator Cabang  kepada Ketua Dewan Pimpinan Daerah untuk mendapatkan penetapan pelaksanaan Musyawarah Cabang Luar Biasa 

4.    Musyawarah Cabang Luar Biasa diadakan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah

5.    Musyawarah Cabang Luar Biasa sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya ˝ + 1 dari Jumlah pemegang Hak Suara dalam Musyawarah Cabang

6.    Setiap Persetujuan dalam Musyawarah Cabang Luar Biasa harus mendapat persetujuan sekurang-kurangnya ˝ + 1 dari jumlah pemegang hak suara dalam Musyawarah Cabang  yang hadir

 

 

BAB XVII

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

 

Pasal 45

(1)     Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) dilakukan dalam Kongres Nasional 

(2)     Untuk melakukan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga harus mendapat persetujuan  sekurang-kurangnya ˝ +1 dari jumlah pemegang hak suara dalam Kongres Nasional  yang hadir.

 

BAB XVIII

PEMBUBARAN

 

Pasal 46

(1)     Pembubaran Ikatan Sarjana Hukum Indonesia   hanya dapat diputuskan dalam Kongres Nasional Luar Biasa yang diadakan khusus untuk itu

(2)     Kongres Nasional  Luar Biasa untuk tujuan pembubaran, diadakan atas usul tertulis sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Senator ditambah 2/3 dari Jumlah Dewan Pimpinan Daerah ditambah 2/3 dari Jumlah Dewan Pimpinan Cabang

(3)     Kongres Nasional Luar Biasa untuk tujuan pembubaran, sah jika di hadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari Jumlah Senator ditambah 2/3 dari Jumlah Dewan Pimpinan Daerah ditambah 2/3 dari Jumlah Dewan Pimpinan Cabang

(4)     Keputusan yang bertujuan untuk membubarkan organisasi harus disetujui sekurang kurangnya  3/4 dari jumlah pemegang hak suara dalam Kongres Nasional yang hadir

 

BAB XIX

ATURAN PERALIHAN

 

Pasal 47

Untuk pertama kali sebelum dilaksanakan Kongres Nasional I;

1.    Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ditetapkan oleh Para Pendiri

2.    Penetapan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga tersebut dilaksanakan dalam Musyawarah Para Pendiri

3.    Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal  dipilih  dalam   Musyawarah Para Pendiri

4.    Dewan Pembina dan Dewan Pakar dibentuk oleh Tim Formatur

5.    Pimpinan Pusat menjalankan tugas utama sebagai berikut:

a.    Membentuk Kepengurusan di tingkat Dewan Pimpinan Pusat

b.    Membentuk Dewan Pimpinan Daerah

c.    Membentuk Peraturan yang diperlukan

d.    Melaksanakan Tugas dan Fungsi sesuai ketentuan yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

e.    Menentukan Jadwal Pelaksanaan Kongres Nasional I

6.    Syarat dan Tata Cara Pembentukan Dewan Pembina, Dewan Pakar, Dewan Senator Nasional, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan Cabang, Dewan Senator Daerah, Dewan Senator Cabang,  mengacu kepada Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

7.    Ketua Dewan Pimpinan Daerah dan Ketua Dewan Pimpinan Cabang  dipilih, diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Pimpinan Pusat

8.    Jadwal, Mekanisme pelaksanaan  Kongres Nasional I mengacu pada kebijakan Ketua Umum

 

BAB XX

KETENTUAN PENUTUP

 

Pasal 48

(1)         Pengaturan lebih rinci mengenai Anggaran Dasar diatur dalam Anggaran Rumah Tangga dan peraturan lainnya

(2)         Anggaran Dasar ini berlaku sejak ditetapkan

 

DITETAPKAN PADA  MUSYAWARAH PARA PENDIRI IKATAN SARJANA HUKUM INDONESIA TANGGAL 14 OKTOBER 2009 DI JAKARTA

 

 

 

 

 

 

ANGGARAN RUMAH TANGGA

 

BAB I

TEMPAT KEDUDUKAN

 

Pasal 1

(1)         Dewan Pimpinan Pusat berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia

(2)         Dewan Pembina berkedudukan di Dewan Pimpinan Pusat

(3)         Dewan Pakar berkedudukan di Dewan Pimpinan Pusat

(4)         Dewan Senator Nasional berkedudukan di Dewan Pimpinan Pusat

(5)         Dewan Pimpinan Daerah berkedudukan di Ibukota Propinsi

(6)         Dewan Pimpinan Cabang berkedudukan di Ibukota Kabupaten/Kota

(7)         Dewan Senator Daerah berkedudukan di Dewan Pimpinan Daerah

(8)         Dewan Senator Cabang berkedudukan di Dewan Pimpinan Cabang

 

BAB II

KEANGGOTAAN

 

Pasal 2

(1)         Syarat untuk menjadi anggota;

a.    Warga Negara Indonesia

b.    Sarjana Hukum dari institusi pendidikan Hukum di Dalam Negeri atau  Luar Negeri

c.    Menyatakan kesediaan untuk menjadi Anggota

d.    Membayar Iuran Anggota

(2)         Hak Anggota

a.    Memiliki 1 hak suara dalam Musyawarah Cabang

b.    Dipilih dalam mengisi jabatan keorganisasian

c.    Hak menyampaikan pendapat

d.    Mengikuti kegiatan organisasi seperti:

1.    Seminar

2.    Workshop

3.    Focus Group

4.    Sidang Tahunan

5.    Dan fasilitas lainnya yang akan ditentukan kemudian

e.    Mendapatkan fasilitas kemudahan dalam megikuti kegiatan organisasi seperti:

1.    Bulletin

2.    Jurnal

3.    Prosiding

4.    Dan fasilitas lainnya yang akan ditentukan kemudian

(3)         Setiap anggota hanya berhak menjadi anggota dari satu Cabang

(4)         Perpindahan keanggota dari satu cabang  ke cabang  lainnya wajib memberitahukan kepada Dewan Pimpinan Cabang

Pasal 3

(1)         Keanggotaan dapat ditetap oleh Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah atau oleh Dewan Pimpinan Cabang

(2)         Identitas Keanggotaan diterbitkan oleh Dewan Pimpinan Pusat

Pasal 4

(1)         Keanggotaan berakhir jika;

a.    Meninggal Dunia

b.    Mengundurkan diri

c.    Diberhentikan

(2)         Pengunduran diri dinyatakan secara tertulis dan disampaikan kepada Dewan Pimpinan Pusat / Dewan Pimpinan Daerah/Dewan Pimpinan Cabang

 

Pasal 5

Ketentuan lebih lanjut mengenai keanggotaan diatur dalam Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

BAB III

PEMBENTUKAN DAERAH DAN CABANG

 

Pasal 6

Dewan Pimpinan Daerah dibentuk oleh Dewan Pimpinan Pusat dengan mempertimbangan keinginan dan aspirasi para sarjana hukum diwilayah Daerah bersangkutan.

 

Pasal 7

Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Dewan Pimpinan Daerah diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

Pasal 8

(1)      Dewan Pimpinan Cabang dibentuk setelah dibentuknya Dewan Pimpinan Daerah diwilayah yang bersangkutan

(2)      Syarat  pembentukan Dewan Pimpinan Cabang  sebagai berikut;

a.    Minimal telah memiliki 5 orang anggota yang berdomisili di wilayah bersangkutan

b.    Mendapat persetujuan dari Dewan Pimpinan Daerah

Pasal 9

Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Dewan Pimpinan Cabang diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

 

BAB IV

STRUKTUR KEPENGURUSAN

 

Pasal 10

Struktur Dewan Pimpinan Pusat terdiri dari :

1.    Ketua Umum

2.    Sekretaris Jenderal

3.    Para Ketua

4.    Para Wakil Sekretaris Jenderal

5.    Bendaraha Umum

6.    Para Wakil Bendahara

7.    Anggota Departemen

 

Pasal 11

(1)        Ketua Umum memiliki hak prerogatif untuk mengangkat dan menetapkan kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat

(2)        Pengurus adalah pembantu Ketua Umum dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagai Pimpinan Pusat

(3)        Pengurus Dewan  Pimpinan Pusat bertanggungjawab kepada Ketua Umum

(4)        Pengurus diangkat dan diberhentikan oleh Ketua Umum

 

Pasal 12

(1)          Sekretaris Jenderal adalah Pelaksana Harian dari Dewan Pimpinan Pusat

(2)          Sekretaris Jenderal bertanggungjawab langsung kepada Ketua Umum

(3)          Sekretaris Jenderal diangkat dan diberhentikan dalam Kongres Nasional

(4)          Sekretaris Jenderal dikukuhkan sebagai Ketua Umum setelah masa Jabatan sebagai Sekretaris Jenderal berakhir

(5)          Pengukuhan sebagai Ketua Umum dilaksanakan pada Kongres Nasional

 

Pasal 13

(1)        Ketua adalah pemimpin untuk beberapa departemen

(2)        Ketua dapat dibantu oleh Wakil Ketua

(3)        Ketua bertangungjawab lansung kepada Sekretaris Jenderal

(4)        Wakil Sekretaris Jenderal merupakan Sekretaris untuk beberapa departemen

(5)        Bendahara Umum adalah Pengelola Keuangan di tingkat Pimpinan Pusat

(6)        Bendahara Umum  merupakan Kuasa Pengguna Anggaran

(7)        Bendahara Umum dapat dibantu oleh Wakil Bendahara

(8)        Bendahara Umum bertanggungjawab langsung kepada Ketua Umum

 

Pasal 14

Struktur Dewan Pimpinan Daerah terdiri dari;

1.    Ketua Dewan Pimpinan Daerah

2.    Para Wakil Ketua

3.    Sekretaris Daerah

4.    Para Wakil Sekretaris Daerah,

5.    Bendaraha Daerah

6.    Anggota Divisi

Pasal 15

(1)    Ketua Dewan Pimpinan Daerah memiliki hak prerogatif untuk mengangkat dan menetapkan kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah

(2)    Pengurus adalah pembantu Ketua Dewan Pimpinan Daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagai Pimpinan Daerah

(3)    Pengurus Dewan  Pimpinan Daerah bertanggungjawab kepada Ketua Dewan Pimpinan Daerah

(4)    Pengurus diangkat dan diberhentikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah

 

Pasal 16

(1)    Sekretaris Daerah adalah Pelaksana Harian dari Dewan Pimpinan Daerah

(2)    Sekretaris Daerah bertanggungjawab langsung kepada Ketua Dewan Pimpinan Daerah

(3)    Para Wakil Ketua Cabang adalah Ketua Divisi

(4)    Wakil Ketua Cabang  bertangungjawab lansung kepada Sekretaris Daerah

(5)    Sekretaris Daerah dapat dibantu oleh Wakil Sekretaris Daerah

(6)    Wakil Sekretaris Daerah merupakan Sekretaris Divisi

(7)    Bendahara Daerah adalah Pengelola Keuangan di tingkat Pimpinan Daerah

(8)    Bendahara Daerah merupakan Kuasa Pengguna Anggaran

(9)    Bendahara Daerah dapat dibantu oleh Wakil Bendahara

(10) Wakil Bendahara merupakan bendahara Divisi

(11) Bendahara Daerah bertanggungjawab langsung kepada Ketua Dewan Pimpinan Daerah

 

Pasal  17

Struktur Dewan Pimpinan Cabang terdiri dari;

1.    Ketua Dewan Pimpinan Cabang,

2.    Para Wakil Ketua Cabang

3.    Sekretaris Cabang,

4.    Para Wakil Sekretaris Cabang,

5.    Bendahara Cabang

6.    Para Wakil Bendahara

7.    Anggota Biro

 

Pasal 18

(1)      Ketua Dewan Pimpinan Cabang memiliki hak prerogatif untuk mengangkat dan menetapkan kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang

(2)      Pengurus adalah pembantu Ketua Dewan Pimpinan Cabang dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagai Pimpinan Cabang

(3)      Pengurus Dewan  Pimpinan Cabang bertanggungjawab kepada Ketua Dewan Pimpinan Cabang

(4)      Pengurus diangkat dan diberhentikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Cabang

 

Pasal 19

(1)         Sekretaris Cabang adalah Pelaksana Harian dari Dewan Pimpinan Cabang

(2)         Sekretaris Cabang bertanggungjawab langsung kepada Ketua Dewan Pimpinan Cabang

(3)         Ketua adalah pemimpin Biro

(4)         Ketua dapat dibantu oleh Wakil Ketua

(5)         Ketua bertangungjawab lansung kepada Sekretaris Cabang

(6)         Wakil Sekteraris Cabang merupakan Sekretaris Biro

(7)         Bendahara Cabang adalah Pengelola Keuangan di tingkat Pimpinan Cabang

(8)         Bendahara Cabang merupakan Kuasa Pengguna Anggaran

(9)         Bendahara Cabang dapat dibantu oleh Wakil Bendahara

(10)     Bendahara Cabang bertanggungjawab langsung kepada Ketua Dewan Pimpinan Cabang

(11)     Wakil Bendahara merupakan bendahara Biro

 

 

BAB V

SYARAT MENJADI SEKRETARIS JENDERAL,

KETUA DEWAN PIMPINAN DAERAH DAN KETUA DEWAN PIMPINAN CABANG

 

Pasal 20

Syarat untuk menjadi Sekretaris Jenderal

1.    Anggota

2.    Pernah menjadi Pengurus

3.    Telah menunjukan dedikasi kepada organisasi

4.    Tidak sedang menjalankan sanksi organisasi

5.    Tidak pernah dijatuhi hukuman penjara

6.    Didukung oleh sekurang-kurang  20% dari jumlah Dewan Pimpinan Daerah

 

Pasal 21

Ketentuan lebih lanjut mengenai Sekretaris Jenderal diatur dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

Pasal 22

Syarat menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah:

1.    Anggota dari  Dewan Pimpinan Daerah yang bersangkutan

2.    Pernah menjadi Pengurus

3.    Telah menunjukan Dedikasi kepada organisasi

4.    Tidak sedang menjalankan sanksi organisasi

5.    Tidak pernah dijatuhi hukuman penjara

6.    Didukung oleh sekurang-kurangnya 1 (satu) Dewan Pimpinan Cabang

 

Pasal 23

Ketentuan lebih lanjut mengenai Ketua Dewan Pimpinan Daerah diatur dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

Pasal 24

Syarat menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang;

1.    Anggota dari  Dewan Pimpinan Cabang  yang bersangkutan

2.    Pernah jadi Pengurus

3.    Telah menunjukan Dedikasi kepada organisasi

4.    Tidak sedang menjalankan sanksi organisasi

5.    Tidak pernah dijatuhi hukuman penjara

6.    Didukung oleh sekurang-kurangnya 10%  (sepuluh persen ) dari anggota

 

Pasal 25

Ketentuan lebih lanjut mengenai Pencalonan Ketua Dewan Pimpinan Cabang diatur dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

BAB VI

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM NASIONAL

 

Pasal 26

(1)         Garis-Garis Besar Program Nasional adalah suatu kebijakan yang menjadi arah program – program kerja secara nasional untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi.

(2)         Garis-Garis Besar Program Nasional merupakan acuan program untuk jangka 10 tahun

(3)         Garis-Garis Besar Program Nasional dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk Rencana Strategis Nasional dan Rencana Kerja Nasional

(4)         Rencana Kerja Nasional merupakan penjabaran teknis program kerja secara nasional untuk jangka waktu setiap 5 tahun.

(5)         Pembentukan Rencana Kerja  Nasional dilakukan dalam Rapat Kerja Nasional

 

Pasal 27

(1)         Dewan Pimpinan Daerah membentuk dan menetapkan Rencana Kerja Daerah sebagai penjabaran dari Rencana Kerja Nasional

(2)         Rencana Kerja Daerah dipergunakan untuk periode 3 tahun masa kepengurusan

(3)         Pembentukan Rencana Kerja Daerah dilakukan dalam Rapat Kerja Daerah

Pasal 28

(1)         Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk Lembaga otonom dan / atau semi otonom

(2)         Lembaga otonom dan / atau semi otonom merupakan lembaga yang dibentuk untuk melaksanakan usaha-usaha tertentu guna pencapaian tujuan organisasi

(3)         Lembaga otonom dan / atau semi otonom berkedudukan di Dewan Pimpinan Pusat

Pasal 29

Ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga otonom dan semi otonom diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

Pasal 30

Ketentuan lebih lanjut mengenai Garis-Garis Besar Program Nasional diatur dalam Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

BAB VII

SIDANG TAHUNAN

 

Pasal 31

(1)  Sidang Tahunan adalah pertemuan tahunan yang dihadiri oleh;

a.    Dewan Pimpinan Pusat

b.    Dewan Pembina

c.    Dewan Pakar

d.    Dewan Pimpinan Daerah

e.    Dewan Pimpinan Cabang

f.     Anggota

(2)  Sidang Tahunan bertujuan untuk;

a.    Pembahasan permasalahan Hukum Nasional

b.    Koordinasi internal organisasi

c.    Penguatan kompetensi Anggota

(3)  Sidang Tahunan dapat diadakan setiap tahun oleh Dewan Pimpinan Pusat

 

Pasal 32

Ketentuan lebih lanjut mengenai Sidang Tahunan diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

 

BAB VIII

SIDANG PLENO

 

Pasal 34

(1)         Sidang Pleno Kongres Nasional adalah Sidang Pleno yang dihadiri oleh pemegang hak suara dalam kongres nasional, untuk menetapkan ketentuan yang mengikat pelaksanaan Kongres Nasional dan Menetapkan hasil Kongres Nasional

(2)         Sidang Pleno Senator Nasional adalah sidang pleno yang dihadiri oleh para senator Nasional untuk memilih Dewan Senator Nasional dan untuk menetapkan hasil ketentuan pasal 42 Anggaran Dasar

(3)         Sidang Pleno Musyawarah Daerah  adalah  Sidang Pleno yang dihadiri oleh pemegang hak suara dalam Musyawarah Daerah   untuk menetapkan ketentuan yang mengikat pelaksanaan Musyawarah Daerah    dan Menetapkan hasil Musyawarah Daerah 

(4)         Sidang Pleno Senator Daerah adalah sidang pleno yang dihadiri oleh para senator Daerah untuk menetapkan hasil ketentuan pasal 43 Anggaran Dasar

(5)         Sidang Pleno Musyawarah Cabang  adalah  Sidang Pleno yang dihadiri oleh pemegang hak suara dalam Musyawarah Cabang   untuk menetapkan ketentuan yang mengikat pelaksanaan Musyawarah Cabang dan Menetapkan hasil Musyawarah Cabang 

(6)         Sidang Pleno Senator Cabang adalah sidang pleno yang dihadiri oleh para senator Cabang untuk menetapkan hasil ketentuan pasal 44  Anggaran Dasar

 

Pasal 35

(1)         Setiap sidang Pleno adalah tertutup, kecuali dinyatakan lain berdasarkan putusan pleno yang bersangkutan

(2)         Sidang Pleno  dipimpin oleh Pimpinan Sidang yang dipilih dari dan oleh pemegang hak suara, sekurang kurangnya terdiri dari 3 orang

(3)         Pemilihan pimpinan sidang  dilaksanakan  oleh Panitia Pengarah

(4)         Panitia Pengarah menetapkan tata tertib Pemilihan Pimpinan Sidang

(5)         Panitia Pengarah menetapkan hasil pemilihan Pimpinan Sidang

 

Pasal 36

Ketentuan lebih lanjut mengenai Sidang Pleno diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

 

BAB IX

RAPAT-RAPAT

 

Pasal 37

(1)         Rapat Pimpinan Nasional merupakan rapat yang dihadiri oleh :

a.    Dewan Pimpinan Pusat

b.    Dewan Pembina

c.    Dewan Pakar

d.    Dewan Senator Nasional

e.    Dewan Pimpinan Daerah

f.    Dewan Pimpinan Cabang

(2)         Rapat Pimpinan Nasional dilaksanakan untuk :

a.    Menetapkan Rencana Pelaksanaan Kongres Nasional

b.    Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja Nasional

c.    Menetapkan Kebijakan strategis lainnya

(3)         Rapat Pimpinan Nasional dilaksanakan oleh Dewan Pimpinan Pusat diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 kali dalam masa Kepengurusan

 

Pasal 38

Ketentuan lebih lanjut mengenai Rapat Pimpinan Nasional diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

Pasal 39

(1)      Rapat Dewan Senator Nasional  adalah rapat yang dihadiri oleh Senator Nasional

(2)      Rapat Dewan Senator Nasional  di pimpin oleh Ketua Dewan Senator Nasional

(3)      Rapat Dewan Senator Nasional  dilaksanakan dalam rangka :

a.    Pengawasan perlaksanaan Garis-Garis  Besar Program Nasional dan  

b.    Pembahasan usulan rancangan perubahan anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan peraturan yang dianggap perlu lainnya

 

Pasal 40

(1)      Rapat Kerja Nasional adalah rapat yang dihadiri oleh;

a.    Dewan Pembina

b.    Dewan Pakar

c.    Dewan Pimpinan Pusat

d.    Dewan Pimpinan Daerah

e.    Dewan Senator Nasional

f. Dewan Senator Daerah

(2)      Rapat Kerja Nasional bertujuan untuk

a.    Menetapkan Rencana Kerja Nasional

b.    Koordinasi dan sinkronisasi Rencana Kerja

 

Pasal 41

Ketentuan lebih lanjut mengenai Rapat Kerja diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

Pasal 42

(1)      Rapat Pengurus Harian adalah rapat yang dihadiri oleh Pengurus Harian

(2)      Rapat Pengurus Harian di pimpin oleh Ketua Umum dan / atau Sekretaris Jenderal

(3)      Rapat Pengurus Harian dilaksanakan untuk:

a.    Membahas permasalahan tertentu untuk  pengambilan keputusan oleh Ketua Umum

b.    Koordinasi pelaksanaan tugas-tugas keorganisasian

 

Pasal 43

(1)         Rapat Kerja Dewan Pimpinan  Pusat  adalah rapat kerja yang dihadiri oleh Pengurus Pusat

(2)         Rapat Kerja Pengurus Pusat di Pimpin oleh Ketua Umum dan / atau Sekretaris Jenderal

(3)         Rapat Kerja Pengurus Pusat dilaksanakan untuk :

a.    menetapkan Rencana Kerja Pengurus Pusat

b.    Evaluasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Rencana Kerja Pengurus  Pusat

 

Pasal 44

(1)         Rapat Pengurus  adalah rapat yang dihadiri oleh Pengurus Dewan Pimpinan Pusat

(2)         Rapat Pengurus dipimpin oleh Ketua Umum dan / atau Sekretaris Jenderal

(3)         Rapat Pengurus dilaksanakan untuk pembahasan agenda  tertentu sesuai dengan kebutuhan

Pasal 45

(1)         Rapat Pengurus Harian Daerah  adalah rapat yang dihadiri oleh Pengurus Harian Daerah

(2)         Rapat Pengurus Harian Daerah di pimpin oleh Ketua Daerah Pimpinan Daerah  dan / atau Sekretaris Daerah

(3)         Rapat Pengurus Harian dilaksanakan untuk:

a.    Membahas permasalahan tertentu untuk  pengambilan keputusan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah

b.    Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan dalam periode tertentu

 

Pasal 46

(1)         Rapat Kerja Pengurus  Daerah adalah rapat kerja yang dihadiri oleh Pengurus Daerah

(2)         Rapat Kerja Pengurus Daerah di Pimpin oleh Ketua Daerah dan / atau Sekretaris Daerah

(3)         Rapat Kerja Pengurus Daerah dilaksanakan untuk:

a.    menetapkan Rencana Kerja Pengurus Daerah

b.    Evaluasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Rencana Kerja Pengurus  Daerah

 

Pasal 47

(1)         Rapat Pengurus Daerah adalah rapat yang dihadiri oleh pengurus Daerah

(2)         Rapat Pengurus Daerah dipimpin oleh Ketua Daerah dan / atau Sekretaris Daerah

(3)         Rapat Pengurus dilaksanakan untuk pembahasan agenda  tertentu sesuai dengan kebutuhan

Pasal 48

(1)         Rapat Dewan Senator Daerah  adalah rapat yang dihadiri oleh Senator Daerah

(2)         Rapat Dewan Senator Daerah  di pimpin oleh Ketua Dewan Senator Daerah

(3)         Rapat Dewan Senator Daerah dilaksanakan dalam rangka Pengawasan perlaksanaan Program Kerja Daerah  

 

Pasal 49

(1)         Rapat Pengurus Harian Cabang  adalah rapat yang dihadiri oleh Pengurus Harian Cabang

(2)         Rapat Pengurus Harian Cabang di pimpin oleh Ketua Dewan Pimpinan Cabang  dan / atau Sekretaris Cabang

(3)         Rapat Pengurus Harian dilaksanakan untuk:

a.    Membahas permasalahan tertentu untuk  pengambilan keputusan oleh Ketua Dewan Pimpinan Cabang

b.    Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan dalam periode tertentu

 

Pasal 50

(1)         Rapat Kerja Pengurus  Cabang adalah rapat kerja yang dihadiri oleh Pengurus Cabang

(2)         Rapat Kerja Pengurus Cabang di Pimpin oleh Ketua Dewan Pimpinan Cabang  dan / atau Sekretaris Cabang

(3)         Rapat Kerja Pengurus Cabang dilaksanakan untuk;

a.    menetapkan Rencana Kerja Pengurus Cabang

b.    Evaluasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Rencana Kerja Pengurus  Cabang

 

Pasal 51

(1)         Rapat Pengurus Cabang adalah rapat yang dihadiri oleh pengurus Cabang

(2)         Rapat Pengurus Cabang dipimpin oleh Ketua Dewan Pimpinan Cabang  dan / atau Sekretaris Cabang

(3)         Rapat Pengurus dilaksanakan untuk pembahasan agenda  tertentu sesuai dengan kebutuhan

Pasal 52

(1)         Rapat Dewan Senator Cabang  adalah rapat yang dihadiri oleh Senator Cabang

(2)         Rapat Dewan Senator Cabang  di pimpin oleh Ketua Dewan Senator Cabang

(3)         Rapat Dewan Senator Cabang  dilaksanakan dalam rangka Pengawasan perlaksanaan Program Kerja Cabang  

 

BAB X

BERHALANGAN TETAP

Pasal 53

(1)      Yang dimaksud dengan berhalangan tetap adalah;

a.    Tidak dapat melaksanakan tugas dan fungsi sebagai pimpinan  sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 1 tahun

b.    Meninggalkan tempat kedudukan atau pindah atau  keluar dari daerah wilayah administratif sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 1 tahun

(2)      Kondisi berhalangan tetap, ditetapkan dalam Rapat Pengurus Harian

 

 

BAB XI

SANKSI-SANKSI

 

Pasal 54

Sanksi terdiri dari

1.    Peringatan Tertulis

2.    Skorsing

3.    Pemberhentian

 

 

Pasal 55

(1)      Peringatan tertulis diberikan jika melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan / atau melanggar peraturan organisasi lainnya.

(2)      Skorsing adalah pencabutan status keanggotan untuk waktu tertentu, diberikan jika mengulangi Perbuatan sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Surat Peringatan Tertulis

(3)      Skorsing diberikan untuk waktu paling lama 2 tahun

(4)      Pemberhentian adalah pencabutan status keanggotaan secara Tetap, diberikan jika;

a.    Dalam masa skorsing masih mengulangi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

b.    Tidak lagi memenuhi syarat untuk menjadi anggota, atau

c.    Melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana maksimal 5 tahun dan telah berkekuatan hukum tetap

(5)      Kepada anggota diberikan hak untuk membela diri dalam Rapat Pengurus Harian yang diselenggarakan untuk itu

 

BAB XII

PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMATIKA

 

Pasal 56

ISHI dapat menggunakan fasilitas  teknologi teleconference atau Tekologi Informatika untuk keperluan ;

1.    Kongres Nasional

2.    Musyawarah Daerah

3.    Rapat Pimpinan Nasional

4.    Rapat Dewan Senator Nasional

5.    Rapat Kerja Nasional

6.    Rapat Dewan Pimpinan Daerah

7.    Rapat Dewan Senator Daerah

8.    Rapat Kerja Daerah

 

Pasal 57

Ketentuan lebih lanjut mengenai Penggunaan teleconference atau Teknologi Informatika diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

 

BAB XIII

PEMBEKUAN, PEMBUBARAN  DEWAN PIMPINAN DAERAH DAN DEWAN PIMPINAN CABANG

 

Pasal  58

(1)         Pembekuan adalah Pencabutan sementara status Dewan Pimpinan Daerah atau Dewan Pimpinan Cabang tertentu

(2)         Pembekuan dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat

(3)         Pembekuan dapat dilakukan jika:

a.    tidak menjalankan Tugas dan Fungsi sebagai Dewan Pimpinan Daerah

b.    tidak mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan/ atau peraturan organisasi lainnya

(4)         Pembekuan dilakukan dalam jangka waktu tertentu

(5)         Pengelolaan Dewan Pimpinan Daerah atau Dewan Pimpinan Cabang  yang dibekukan dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat

(6)         Pembekuan berakibat hilangnya hak sebagai Dewan Pimpinan Daerah atau Dewan Pimpinan Cabang

 

Pasal 59

Ketentuan lebih lanjut mengenai Pembekuan  diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

Pasal 60

(1)         Pembubaran adalah penghapusan Dewan Pimpinan Daerah  atau Dewan Pimpinan Cabang tertentu

(2)         Pembubaran dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat

(3)         Pembubaran dilakukan jika tidak lagi memenuhi syarat sebagai  Dewan Pimpinan Daerah atau Dewan Pimpinan Cabang

 

Pasal 61

Ketentuan lebih lanjut mengenai Pembubaran diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

BAB XIV

PELAKSANAAN KONGRES NASIONAL

 

Pasal 62

(1)         Jadwal Pelaksanaan Kongres Nasional  Ditetapkan pada  Rapat Pimpinan Nasional

(2)         Rapat Pimpinan Nasional yang  membahas penetapan Pelaksanaan Kongres Nasional harus disertai dengan laporan kerja dari masing –masing Ketua Dewan Pimpinan Daerah dengan Pimpinan Cabang, Lembaga Otonom atau semi Otonom

 

Pasal 63

(1)         Pemanggilan dan Undangan Peserta Kongres Nasional dilakukan secara tertulis oleh Ketua Umum selambat lambatnya 30 hari sebelum pelaksanaan Kongres Nasional

(2)         Pemanggilan dilakukan melalui Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan Cabang dan/atau langsung kepada yang bersangkutan.

(3)         Pemanggilan dapat dilakukan melalui media masa cetak dan/atau elektronik dengan pertimbangan efisiensi dan efektifitas

 

Pasal 64

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Kongres Nasional diatur  dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

BAB XV

PELAKSANAAN MUSYAWARAH DAERAH

 

Pasal 65

(1)         Penetapan Pelaksanaan Musyawarah Daerah  ditentukan pada  Rapat Pengurus Daerah

(2)         Rapat Pengurus Daerah yang  membahas penetapan Pelaksanaan Musyawarah Daerah harus disertai dengan laporan kerja dari masing –masing  pengurus

(3)         Pimpinan  Daerah wajib memberitahukan Rencana Pelaksanaan Musyawarah Daerah ke Pimpinan Pusat selambat-lambatnya 15 hari setelah Penetapan

 

Pasal 66

(1)         Pemanggilan dan Undangan Peserta Musyawarah Daerah dilakukan secara tertulis oleh Ketua Daerah selambat lambatnya 15 hari sebelum pelaksanaan

(2)         Pemanggilan dilakukan secara langsung dan/atau melalui pengumuman tertulis

(3)         Pemanggilan dapat dilakukan melalui media masa cetak dan/atau elektronik dengan pertimbangan efisiensi dan efektifitas

 

Pasal 67

(1)         Pengumuman Pelaksanaan Musyawarah Daerah dilakukan paling lambat 30 hari sebelum pemungutan suara dilakukan

(2)         Pelaksana Musyawarah Daerah Wajib menyampaikan Laporan Pelaksanaan Pemilihan selambat-lambatnya 7 hari setalah Pemungutan suara dilakukan

(3)         Penetapan Ketua Daerah dan Senator Daerah terpilih  dilakukan oleh Ketua Umum

 

Pasal 68

(1)         Dewan Pimpinan Pusat  dapat menetapkan Ketua Dewan Pimpinan Daerah  Sementara  jika :

a.    Terhitung 30 hari sejak berakhirnya masa jabatan, Ketua Dewan Pimpinan Daerah  ,tidak melaksanakan Musyawarah Daerah, atau

b.    Ketua Dewan Pimpinan Daerah  tidak menetapkan  jadwal pelaksanaan Musyawarah  Daerah,terhitung  30 hari sejak berahirnya Masa Jabatan

(2)         Ketua Dewan Pimpinan Daerah  Sementara dipilih berdasarkan usulan dari Dewan Senator Daerah

(3)         Masa Jabatan Ketua Dewan Pimpinan Daerah  Sementara  paling lama untuk periode 1 tahun

 

Pasal 69

Ketentuan lebih lanjut mengenai Jabatan Ketua Dewan Pimpinan Daerah  Sementara diatur dengan Keputusan Dewan Pimpinan Pusat

 

BAB XVI

PERATURAN ORGANISASI

 

Pasal 70

(1)         Peraturan Organisasi terdiri dari:

a.    Keputusan Kongres Nasional;

b.    Keputusan Kongres Nasional Luar Biasa;

c.    Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga;

d.    Keputusan  Dewan Pimpinan Pusat

e.    Keputusan Musyawarah Daerah

f.   Keputusan Musyawarah Luar Biasa Daerah

g.    Keputusan Dewan Pimpinan Daerah

h.    Keputusan Musyawarah Cabang

i.    Keputusan Musyawarah Cabang Luar Biasa

j.    Keputusan Dewan Pimpinan Cabang

(3)      Keputusan Kongres Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dinyatakan dalam bentuk Surat Keputusan Kongres Nasional yang ditandatangani oleh Pimpinan Sidang Kongres Nasional

(4)      Keputusan Kongres Luar Biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dinyatakan dalam bentuk Surat Keputusan Kongres Luar Biasa yang ditandatangani oleh Pimpinan Sidang Kongres Luar Biasa

(5)      Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dinyatakan dalam bentuk Akte Pendirian dan /atau  beserta Akte Perubahan

(6)      Keputusan Dewan Pimpinan Pusat  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dinyatakan dalam bentuk Keputusan Dewan Pimpinan Pusat  baik dalam bentuk pengaturan (regelling) atau penetapan (beschikking), ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal

(7)      Keputusan Musyawarah Daerah  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dinyatakan dalam bentuk Surat Keputusan Musyawarah  Daerah yang ditandatangani oleh Pimpinan Sidang Musyawarah Daerah

(8)      Keputusan Musyawarah Daerah Luar Biasa  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dinyatakan dalam bentuk Surat Keputusan Musyawarah Daerah Luar Biasa  yang ditandatangani oleh Pimpinan Sidang Musyawarah Daerah Luar Biasa 

(9)      Keputusan Dewan Pimpinan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g dinyatakan dalam bentuk Keputusan Dewan Pimpinan Daerah baik dalam bentuk pengaturan (regelling) atau penetapan (beschikking), ditandatangani olek Ketua Dewan Pimpinan Daerah dan Sekretaris Daerah

(10)   Keputusan Musyawarah Cabang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h  dinyatakan dalam bentuk Surat Keputusan Kongres Cabang yang ditandatangani oleh Pimpinan Sidang Musyawarah Cabang

(11)   Keputusan Musyawarah Cabang Luar Biasa  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i dinyatakan dalam bentuk Surat Keputusan Musyawarah Cabang Luar Biasa  yang ditandatangani oleh Pimpinan Sidang Musyawarah Cabang Luar Biasa 

(12)   Keputusan Dewan Pimpinan Cabang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j dinyatakan dalam bentuk Keputusan Dewan Pimpinan Cabang baik dalam bentuk pengaturan (regelling) atau penetapan (beschikking), ditandatangani olek Ketua Dewan Pimpinan Cabang dan Sekretaris Cabang

 

Pasal 71

Keputusan Dewan Pimpinan Pusat merupakan:

1.    Keputusan untuk menjalankan Keputusan Kongres, Keputusan Kongres Luar Biasa, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

2.    Keputusan dalam rangka menjalankan  tata kelola  organisasi dan mengacu pada  peraturan organisasi diatasnya

3.    Keputusan dalam rangka menjalankan Tugas,  Fungsi dan Kewenangan

 

Pasal 72

Keputusan Dewan Pimpinan Daerah merupakan:

1.    Keputusan untuk menjalankan Keputusan musyawarah Daerah

2.    Keputusan dalam rangka menjalankan  tata kelola  organisasi dan mengacu pada  peraturan organisasi diatasnya

3.    Keputusan dalam rangka menjalankan Tugas,  Fungsi dan Kewenangan

 

Pasal 73

Keputusan Dewan Pimpinan Cabang merupakan:

1.    Keputusan untuk menjalankan Keputusan musyawarah Cabang

2.    Keputusan dalam rangka menjalankan  tata kelola  organisasi dan mengacu pada  peraturan organisasi diatasnya

3.    Keputusan dalam rangka menjalankan Tugas,  Fungsi dan Kewenangan

 

 

BAB XVII

KETENTUAN PENUTUP

 

Pasal 74

(1)         Apabila suatu ketentuan dalam Anggaran Rumah Tangga tidak jelas dan/atau timbul perbedaan penafsiran mengenai suatu ketentuan, maka hal tersebut ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat sehingga mengikat, sebagai bagian  yang tidak terpisahkan dari Anggaran Rumah Tangga

(2)         Ketua Umum dapat menetapkan hal-hal yang belum dan /atau tidak diatur dalam Anggaran Rumah Tangga, kemudian dilaporkan dalam Rapat Dewan Pimpinan Pusat dan dipertanggungjawabkan dalam Kongres Nasional

(3)         Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak ditetapkan

 

DITETAPKAN PADA  MUSYAWARAH PARA PENDIRI IKATAN SARJANA HUKUM INDONESIA TANGGAL 14 OKTOBER 2009 DI JAKARTA